Selasa, 09 Agustus 2011

KEPEPET VS IMING-IMING

MOTIVASI DIKEJAR MACAN
Bayangkan kamu berada di atas gedung kembar bertingkat 10. Jarak antara gedung adalah 10 meter. Di antara gedung itu dibentangkan besi yg hanya selebar kaki, untuk menjembatani kedua gedung. Katakanlah kamu berada di gedung A, dan sisi lain adalah gedung B, maukah kamu menyebrang gedung itu melalui sebatang besi tadi? Mungkin kamu mikir, "iseng banget pertaruhkan nyawa tanpa arti!" Betul? Bagaimana jika saya berikan "iming-iming" hadiah di ujung B, sebesar 1 juta? masih pikir-pikir ya? kenapa? karena tidak sebanding dengan risikonya. Saya naikkan lagi jadi 10 juta deh, Ehemm, masih kurang gede!Gimana kalo 1 Milyar? Nah, itu baru menarik!
Kondisi kedua, bagaimana jika selain "iming-iming" 1 Milyar, saya lepaskan seekor macan yang siap menerkam kamu di gedung A? Ooops, pasti tambah kencang menyebrangnya.
Kondisi ketiga, bagaimana jika iming-iming 1 milyarnya saya hilangkan, tapi macannya tetap saya lepaskan? Tak usah dipikir lagi 'kali ya, pasti kamu tetap akan berlari menyebrang juga! Jadi, lebih besar mana pengaruhnya? The power of kepepet atau the power of iming-iming?

THE POWER OF KEPEPET

Bayangkan, malam hari ini, orang yang paling Anda sayangi mendadak sakit keras, demam tinggi, dan kondisinya semakin melemah. Kemudian Anda membawanya ke rumah sakit. Setelah pengecekan di UGD, ternyata dia di diagnosis mengidap tumor gana di otaknya. Dokter mengatakan bahwa ia harus dioperasi besok juga, jika tidak, maka, nyawanya akan melayang. Nah, operasi hanya bisa dilaksanakan jika Anda menyerahkan uang tunai sejumlah 50 juta rupiah paling lambat jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah Anda masih akan mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan menjawab, "Harus Bisa"!
kenapa? karena KEPEPET! jika tidak, nyawa orang yang Anda cinta akan melayang. Entah dari mana dapat duitnya.
SATU HAL YANG PASTI
      Sebenarnya jika dalam kondisi yang kepepet dan tidak diberikan pilihan untuk 'tidak bisa' , manusia akan berpikir dan mencari jalan ' bagaimana harus bia' . Tetapi kenapa sukses, kaya, membahagiakan orang tua atau keluarga, seolah bukan suatu kebutuhan yang mendesak? Padahal, hanya satu hal yang pasti dari uang yang Anda gunakan untuk menyelamatkan buah hati, yaitu HANGUS ! Entah selamat, (maaf) meninggal, ataupun rawat jalan, uang itu tidak bisa Anda minta balik. Memangnya ada, rumah sakit yang mau mengembalikan dana perawatannya bila pasien tidak berhasil ditangani? Lain hal nya jika uang tadi kita gunakan untuk modal usaha. Ada 2 kemungkinan, bisa untung atau rugi. Kalaupun rugi atau balik modal saja, sebenarnya tetap ada keuntungan yang kita raih , Yup! Pembelajaran.
Percayalah, sesungguhnya manusia telah diciptakan dengan potensi luar biasa, di luar apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut seringkali keluar pada saat kondisi terdesak. yah, seperti kisah seornag nenek bisa melompat dari gedung setinggi 5 meter, saat kebakaran. Coba,kalau dalam kondisi biasa, boro-boro melompat 5 meter, melompat 1 meter saja tidak berani.



Allah pun BerSumPaH

As we get oLder wE do noT geT any youngEr seasonS reTurn and today I am fifty-five; and This tIme Last Year I was Fifty-four; and tHis time Next year I shaLl be Sixty-twO
---Henry Reed, Penyair Inggris---
Ada benarnya juga apa yang dibilangin dalam kutipan tersebut. Artinya kira-kira begini, "Semakin tua,kita tidak pernah kembali muda. Musim berganti dan sekarang usiaku sudah dua puluh lima tahun; dan saat ini pada tahun lalu, usiaku dua puluh empat; dan saat ini pada tahun-tahun selanjutnya, usiaku akan menginjak enam puluh dua. "
        Jangan cuma manggut-manggut doang! Semua orang udah pada tahu kalo yang namanya waktu itu nggak pernah diam, apalagi bergerak mundur kayak mobil-mobil atau kendaraan lain yang lagi parkir. Buktinya, usiamu, kan, semakin bertambah dari tahun ke tahunnya ?
        Pertambahan angka di lilin ... di kue tart ultahmu itu seperti nasehat buatmu bahwa kamu harus lebih dewasa dan bisa berbuat sesuatu buat kamu sendiri dan buat orang lain. Kalo lilin itu bisa ngomong, kamu pasti nggak cuma senang dan bahagia di hari ultahmu, tapi kamu juga bakal menghitung-hitung kualitas hidupmu lantaran malu sama ocehan lilin itu.
      Trus, waktu itu apa, sih? Kalo kamu penasaran dan keukeuh pengin tahu apa aratinya waktu, kamu bisa, kok, lihat-lihat dalam kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam kamus itu, digambarkan beberapa pengertian waktu. 

     Pertama, kamu bakal menemukan pengertian waktu sebagai seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, dan yang akan datang. Artinya bahwa waktu adalah rangkaian saat yang udah, sedang, dan akan kamu alami. Kalo ada yang nanya, kapan kamu lahir? Kamu tinggal sebutkan tanggal, bulan, dan tahunnya, padahal itu tujuh belas tahun yang lalu.
     Namanya rangkaian, waktu itu pasti sambung-menyambung kayak rantai sepeda adikmu yang nggak terpisah-pisah dari satu mata rantai ke mata rantai yang lainnya. Kalo putus satu aja, sepeda itu nggak bakalan bisa jalan sebagaimana mestinya. Jadi, waktu yang kamu alami juga nggak terpisah-pisah. Adanya istilah kemarin, sekarang, dan besoklah yang bikin waktu kedengerannya usang.
     Pengertian kedua yang bakal kamu temukan tentang waktu adalah saat tertentu untuk menyelesaikan sesuatu. Pengetian ini kayaknya lebih tertuju pada fungsi atau batasan waktu untuk mengerjakan sesuatu.
     Michael Schumacher bisa jadi juara dunia dan pemegang rekor balapan F1 karena emang nggak ada yang bisa nyamain kecepatannya di arena balapan. Begitu juga dengan petarung atau petinju yang bsa mengumpulkan angka sebanyak-banyaknya selama 2.5 atau 3 menit dalam satu ronde. Kalo waktunya udah habis , "Teng!" habislah kesempatan untuk mengumplkan nilai. Buktinya, pukulan sekeras apa pun bahkan bisa bikin lawan jatuh, sekalipun nggak bakalan dinilai sama juri. Itu artinya, waktu juga bisa diartikan sebagai saat tertentu untuk menyelesaikan sesuatu.
    "Waktunya udah habis !" terdengar suara pengawas ujianmu, padahala soal itu belum kamu selesaikan semuanya. Apakah waktu bener-bener udah habis? Nggak juga, kan? Itu artinya waktu yang ditentukan emang udah habis .
    Ketiga, kamu bisa menemukan pengertian waktu sebagai kesempatan, tempo, atau peluang. Pengerian ini kayaknya lebih menunjuk pada waktu sebagai benda yang berkaitan dengan resiko. Misalnya, pagi ini, kamu lihat bokapmu uring-uringan lantaran lupa belum bayar PBB, padahal jatuh temponya udah lewat , jatuh tempo itu, artinya waktu terakhir yang udah ditentukan, kalo nggak, bakal ada risikonya, misalnya kena denda.
     Contoh lain, kamu masih bisa ngisi ulang pulsa di HP-mu selama masih punya kesempatan. Biasanya, kalo kontak ke service center, ketika pulsamu udah habis, kamu bakal dikasih kesempatan kapan kamu bisa ngisi pulsa lagi, kalo nggak ngisi juga, nomor kesayanganmu itu bakalan hangus alias nggak bisa dipake lagi! Nggak peduli alasannya, apakah kamu lupa atau pura-pura lupa!
     Jadi, pengertian waktu yang ini lebih menunjuk pada waktu sebagai benda yang berhubungan dengan risiko atau konsekuesi yang kalo nggak digunakan, kamu bakal menanggung akibatnya.

Senin, 08 Agustus 2011

Mana mungkin kamu bisa menghentikan waktu

     Coba, kalo gue bisa memperlambat waktu, pasti gue bakal begini dan begitu ... di sela-sela lamunanmu, kamu mulai berharap yang aneh-aneh. Kok, aneh?   Ya, aneh dong! Mana mungkin, kamu bisa menghentikan waktu ? Kalo matiin arloji,sih, mungkin kamu bisa!
     Keinginan yang nggak masuk akal buat menghentikan waktu ini, muncul lantaran kamu ngerasa dikejar-kejar sama yang namanya waktu.
















Pendeknya, kamu lagi balapan sama waktu! Persis lomba balap karung kalo lagi pesta Agustusan di kampungmu. Siapa yang sampe duluan, dia yang bakalan menang. Dalam keadaan kayak gini, waktu bisa jadi musuh kamu nomor wahid.
       Tik ... tak ... tik ... tak !
       Menjelang malam, kamu ngerasa hidupmu  bener-bener ancur. Udah datang ke sekolah telat, nggak bisa ngisi soal ujian , eh...... peluang jadi orang hebat juga melayang. Lebih bahaya lagi, musuhan sama orang-orang terdekat. Kamu bener-bener  merasa nggak berguna. Kamu ngerasa kalo peluang dan kesempatan nggak pernah ngehampirimu. Kayaknya, yang namanya peluang itu nggak pernah kenal sama kamu. Buktinya, mereka selalu kabur setiap kamu samperin.
      "Sial!" umpatmu kesal.
     Kayak akar bonsai kesayangan bokapmu yang dipasang di teras rumah, waktu merambat dan mengubah petang menjadi malam. Kamu ngerasa lelah.
       Tik ... tak ... tik ... tak ...!
       Tengah malam, pukul 01.32 ...
       kamu masih belum bisa tidur juga. Suara jarum jam dinding itu semakin keras terdengar. Dia seperti sedang mengatakan sesuatu. Penasaran, kamu menoleh ke arah jam dinding itu. Jarum jam itu emang nggak ngomong, tapi terus bergerak. Dari detik ke detik, menit,jam ke jam, haro ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, dan seterusnya. Celakanya lagi, waktu nggak pernah bergerak mundur!






Peluang yang hilang

        Tik ... tak ... tik ... tak ...!
        Kamu terbangun dengan kaget. begitu menoleh ke jam dinding bergambar logo salah satu Klub Liga Italia yang terpasang di dinding kamar, ternyata udah pukul empat sore. Kamu tertidur hampir tiga jam, padahal kamu belum shalat Zuhur.
        Lagi-lagi, kamu lakuin. Tapi, bukannya cepat-cepat pergi ke kamar mandi, kamu malah menyalakan tape dan dengerin lagu metal kesukaanmu. Suaranya keras sekali. Tidak cuma keras, tapi juga berisik. Buktinya, kamu nggak bisa denger kalo nyokap memanggilmu dari luar kamar yang kamu kunci.
       Lagi enak-enaknya dengerin musik, HP kamu bunyi. Kamu emang nggak bisa dengar ringtonenya, tp HP kamu, kan, ada vibra-nya dan kamu jadi tahu kalo ada yang nelepon. Kamu mengecilkan volume tape dan menjawab panggilan itu.
       Dari seberang sana, terdengar suara temanmu yang uring-uringan lantaran pegal nungguin kamu di tempat biasa kamu nongkrong dan gaul sama teman-teman.
"Elo gimana, sih?" Jadi nggak, nih? Temen-temen udah pada nungguin sejak setengah jam yang lalu! Molor aja sih, lo!" kata temenmu yang menceak-mencak lewat HP. Kontan aja kamu kaget bukan main, soalnya ini udah jadi makanan sehari-hari kamu.
      Kamu ngerasa kaget lantaran kamu mestinya ikutan audisi group band. Kontan aja kamu langsung terkesiap. Setelah mematikan HP, kamu segera melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
      Tik ... tak ... tik ... tak ...!
      Cuma lima menit kamu mandi-itu juga dihitung pas-kebanyakan seh, kurang dari itu, lalu tiga menit ganti baju. Jadi, total semuanya sekitar sepuluh menit. Mulutmu juga nggak berhenti komat-kamit. Sialan!
      Begitu mau pergi, ternyata sepeda motormu dipake sama adikmu yang hari ini emang punya jadwal les fisika dan baru pulang setengah jam lagi. Bertambahlah penderitaanmu. Belum lengkap pederitaanmu hari ini, soalnya kamu harus naik angkot buat ngejar waktu yang terus-terusan ngebut kayak kebiasaanmu yang doyan kebut-kebutan.
    Begitu ada angkot yang berhenti, kamu segera  naik dan berharap nggak di ganggu sama lampu lalu lintas. Tapi, harapanmu itu nggak terkabul, nyatanya malah terjebak macet dan kamu harus datang terlambat.
    Turun dari angkot, kamu segera berlari ketempat biasa kamu nongkrong. Ternyata, nggak ada siap-siapa di sana.
    "Pada ke mana, ya?" katamu sambil menggerutu kayak nenek-nenek. Akhirnya, kamu terus pergi ke tempat audisi. Tapi, nggak ada juga. Eit, tunggu! Di sana, ada seorang perempuan muda yang mengenakan papan nama bertuliskan PANITIA AUDISI BAND.
    "Nah,!" katamu lega kayak detektif swasta. Kamu merasa mendapat petunjuk penting.
    " Mbak, nama grup band saya udah dipanggil?"
tanya kamu sama perempuan muda, yang ternyata salah seorang panitia audisi.
    Perempuan itu tersenyum manis. "maaf, audisiny sudah selesai sekitar lima belas menit yang lalu," jawab perempuan itu kalem.
   "Kok, lebih cepat daripada jadwalnya?" tanyamu lagi agak menyelidik.
   "Kami juga menyayangkan hal itu. Soalnya, ada satu kelompok grup band yang nggak jadi tampil dan sayangnya, kami tidak tahu alasannya," jelas perempuan itu.
    Wah ... mampus,deh,gue! teriakmu dalam hati. Kamu benar-benar ngerasa pengin mati. Pasti grup gue,tuh! seru kamu dalam hati. Lalu, kamu gemeteran,lemes, dan lunglai!
     Tik ... tak ... tik ... tak ...!
     Dengan tenaga yang masih tersisa, kamu buru-buru nyari teman ke markas, tempat temen-temenmu biasa nongkrong. Dari jauh, teman-temanmu duduk lemas, dan ketika melihatmu dari jauh, mereka udah nyiapin kata-kata" nggak baik" buatmu. Nggak mau kalah, kamu juga buru-buru nyiapin ratusan alasan supaya bisa selamat dari











dakwaan teman-temanmu. Tapi, kamu  nggak bisa ngumpetin rasa kikukmu.
      Tuhan ,tolong ..... pekikmu dalam hati.
      Setelah menelan semua kata yang kurang enak itu, akhirnya kamu pulang. Badanmu semakin lemas nggak bertenaga. Nggak ! kamu nggak butuh yang namanya suplemen penambah tenaga supaya bisa memulihkan semangatmu. Senja yang sial!
       Tik ... tak .... tik ... tak ... !
        Sampe di rumah, kamu ketemu lagi sama nyokapmu yang udah duduk  di meja makan. Di sana juga ada bokap dan adikmu yang lagi makan buah.
Kontan, kamu ngomelin adikmu yang udah bikin semuanya kacau dan di-K.O sama waktu.
       "Duduk!" kata bokapmu yang emang jarang banget ngomong itu. Kamu, sekali lagi, merasa jadi terdakwa. Kamu memang paling nggak suka sama suasana makan baren ini. Soalnya, duduk di meja makan bareng keluarga, buatmu persis kayak duduk di kursi pesakitan.
      "Ada apa dengan anak Papa ini? " Mana bilang, hari ini kamu uring-uringan melulu?" tanya bokapmu. Dugaan kamu meleset. Ternyata, bokapmu nggak nyap-nyap kayak yang ada dalam pikiranmu.

Tik … TaK … !

Time drops in decay,
like a candle burnt out
Hari yang SesaK
     
        Tik ... tak ... tik ... tak ...!
Pagi yang kendor. Kamu membuka,persisnya,memicingkan mata. Buram, tapi cukup jelas untuk mengetahui pukul berapa sekarang. Pukul 06.15. 
Gila ... ! seru kamu dalam hati. Kamu kalah sama matahari yang udah nongol duluan dari tadi.
Kalo kamu nggak  ingat sekarang ada ujian di sekolah, biasanya malas-malasan dulu. Tapi, untungnya aja dalam dirimu masih ada sisa keinginan buat jadi remaja hebat. Jadi, kamu beranjak dari tempat tidur dan dalam sekejap udah masuk ke kamar mandi. Tapi nggak biasanya, kamu nggak sempet nyanyi-nyanyi, soalnya lagi buru-buru.
selesai mandi, kamu segera mempersiapkan keperluan sekolah.
"Hari ini, kan, ada ulangan? Jam pertama, lagi" dalam kekagetan, kamu masih sempat menggerutu. Sesuatu yang nggak begitu baik buat mengawali hari kamu. Emang, sih, kamu kelihatannya segar setelah diguyur air, tapi kamu nggak bisa ngumpetin rasa khawatirmu. Soalnya, kamu belum sempat baca-baca buku untuk bahan ujian. Jangankan baca, menyentuh juga nggak!
















Elo harus pede, Man! satu sisi hati kamu menyarankan. Nggak sadar, kamu mengangguk kecil. Sebentar lagi, kamu harus udah sampe di sekolah.
Berdoa, mana sempet? Shalat aja lupa! Dalam hitungan menit, kamu udah keluar rumah dengan perasaan seagr yang menipu.
Tik ... tak ... tik ... tak ... !
Aduh, sebentar lagi, nih, kok, belum selesai juga. ya? Padahal, waktunya tinggal lima menit lagi, nih!" gerutu kamu sambil, lagi-lagi, menoleh arlojimu.
Kertas soal ujian itu kayak ngeledekin kamu sampe-sampe kamu bete abis. Sesaat kemudian, bel berbunyi tanda waktu habis. Kamu pengin teriak, tapi percuma!
Gara-gara nggak bisa ngisi soal ujian semua, kamu jadi uring-uringan. Nggak ada yang berani ngedeketin kamu klo lagi kayak begini. Kamu nyesel abis dan menyumpahi waktu yang terasa secepat kilat dan bikin kamu K.O.
Dalam keadaan bete begini, ada seorang temanmu yang tersenyum dan mendekati, "Elo kenapa, sih? Alih-alih menjawab temanmu itu, kamu malah ngeloyor sambil pasang muka berlipat tujuh.
Dan, temanmu itu terbengong-bengong.
Dalam perjalanan sebelum nyampe rumah, kamu pulang sendiri sambil terus-menerus memarahi diri sendiri yang kamu anggap nggak becus ngerjain semua soal ujian itu, padahal semua teman-temanmu bisa menyelesaikan semuanya. Kamu ngerasa nggak berguna!
Nyampe di rumah, kamu membanting pintu dengan keras sampe terdengar suara nyokapmu dari dapur, "Astagfirullah!" lalu, nyokapmu nongol dan nanya,"Kamu kenapa, Nak?" Kamu nggak ngejawab dan masih melipat muka, sekarang lipatannya bertambah jadi sebelas. Mukamu kelihatan tambah nggak karuan!
Kamu menghempaskan tubuh di sofa yang di tata rapi sama nyokap. Persis kayak sulap, semuanya jadi berantakan dalam sekejap. Lalu, nyokap ngedeketin kamu. Sambil ngelus-ngelus rambutmu yang udah acak-acakan itu, nyokap bilang,"Ada apa, Nak?" Bilang, dong, sama Mama ... " Kamu masih aja diam.
Kamu malah ngeloyor pergi ke kamar yang udah pasti berantakan. Kamu banting tubuhmu ke tempat tidur dan berusaha merem. Tapi, kamu tetep nggak bisa merem. Kamu masih dihantui sama kejadian tadi siang.